Novel Edisi Ramadhan: Mimpi di Serambi Hijau

Novel Edisi Ramadhan: Mimpi di Serambi Hijau

 


Sinopsis Novel "MIMPI DI SERAMBI HIJAU"


Ariel Arrafi (32), arsitek sukses di Jakarta, hidup dalam pusaran dunia glamor dan materialistik. Baginya, kesuksesan diukur dari proyek mewah dan rekening bank yang tebal. Ketika ibunya, Hajah Rahimah (60), memintanya pulang ke Medan untuk merenovasi surau tua peninggalan almarhum ayahnya—seorang guru mengaji yang ia anggap "gagal" secara finansial—Ariel menolak. Bagi Ariel, surau itu adalah simbol kenangan pahit: ayahnya lebih memilih mengajar anak-anak kampung daripada membangun karier yang menghasilkan uang.


Namun, setelah ibunya jatuh sakit ringan dan memohon dengan air mata, Ariel akhirnya menyetujui dengan setengah hati. Kembali ke Medan dua bulan sebelum Ramadan, ia berniat menyelesaikan proyek ini secepat mungkin. Tapi ia tak menyangka, Surau Al-Ikhlas yang lapuk itu justru akan merenovasi seluruh hidupnya. Di hadapan Salma (27), relawan muda yang penuh semangat mengelola TPA, di antara para jemaah tua yang sederhana namun bahagia, dan dalam kenangan tentang ayahnya yang mulai terkuak satu per satu, Ariel dipaksa menghadapi pertanyaan terbesar: Apakah bangunan terindah yang ia ciptakan selama ini justru adalah penjara bagi jiwanya sendiri? Ketika Ramadan tiba, bukan hanya surau yang bertransformasi, tetapi juga hati seorang anak yang selama ini tersesat dalam definisi sukses yang keliru.


BAB 1: PROYEK 20 MILIAR VS SERAMBI LAPUK

Kontrak senilai 20 miliar itu hampir saja ia dapatkan, sebelum telepon dari Medan menghancurkan segalanya.

Ariel Arrafi menatap layar laptop dengan kepala dingin—atau setidaknya berusaha. Di hadapannya, tiga perwakilan konsorsium properti terbesar di Asia Tenggara duduk rapi dengan senyum profesional.

“Arrafi Design punya reputasi internasional,” ujar pria berkacamata di ujung meja. “Tapi proyek ini berbeda. Kami butuh sentuhan yang... lokal.”

Ariel mengangguk satu kali.

“Lokal dengan standar global. Saya paham.”

Ia menggeser iPad, memunculkan render 3D. Tower kaca menjulang di atas skybridge berornamen batak—modern, tapi tak tercerabut dari akar.

Raut wajah pria itu berubah. Tertarik.

Getaran.

Ariel menekan tombol mati di saku jas.

“Filosofi desain saya sederhana,” lanjutnya, suara datar. “Masa depan tak harus melupakan masa lalu.”

Getaran lagi. Lebih panjang.

Ibu.

Tombol mati ditekan sekali lagi.

Dua menit kemudian, ponselnya bergetar ketiga kalinya. Rendi, partner bisnisnya di seberang meja, melirik dengan alis terangkat.

Ariel mengabaikan.

Dia sudah bilang pada ibu. Jangan ganggu.


Empat puluh lima menit kemudian, di luar ruang meeting, Ariel memencet nomor itu dengan jari yang sedikit kaku.

“Ya, Bu.”

Suara di seberang tidak langsung menjawab. Hanya tarikan napas panjang. Ariel mengenali napas itu—selalu pertanda sesuatu yang berat.

“Nak... Ibu sudah telepon dari tadi.”

“Ada meeting penting, Bu.”

“Maaf. Ibu tahu kau sibuk.” Jeda. “Tapi surau ayahmu...”

Ariel memejamkan mata.

“Surau.”

“Atapnya ambruk bagian belakang. Semalam hujan besar. Pak Udin bilang kalau tidak segera diperbaiki...” Suara ibu mengecil, seperti menelan kata-kata yang menyakitkan. “...mungkin tidak akan sampai Ramadan.”

Di garis telepon, jarak Jakarta-Medan terasa seperti abad.

“Ibu mau saya kirim uang?” tanya Ariel. Cepat. Efisien. “Saya bisa transfer—”

“Bukan uang, Nak.” Ibu memotong, lembut tapi tegas. “Ibu mau kau pulang.”

Udara di lobi hotel bintang lima terasa sesak.

“Saya tidak bisa, Bu. Ada proyek—”

“Ayahmu membangun surau itu dengan tangannya sendiri. Tanpa arsitek, tanpa kontraktor. Hanya dia, kapak, dan paku.” Ibu berhenti. “Sekarang bangunan itu mau roboh. Siapa lagi yang bisa memperbaikinya kalau bukan kau?”

Ariel tidak menjawab.

Di belakang kelopak matanya, tiba-tiba muncul bayangan: seorang lelaki tua berpeci lusuh, duduk di serambi surau, membaca kitab kuning dengan punggung membungkuk. Wajahnya kabur, tapi Ariel tidak perlu melihat jelas untuk tahu siapa.

Lelaki yang memilih seratus anak kampung daripada satu anak kandungnya sendiri.

“Tiga hari,” gumam Ariel, hampir tidak terdengar.

“Nak?”

“Saya pulang. Tapi hanya tiga hari.” Ia menggeser dasi yang tiba-tiba terasa mencekik. “Saya lihat kondisinya, cari kontraktor lokal, urus semuanya dari Jakarta. Selesai.”

Ibu diam lama.

“Baik, Nak. Ibu tunggu.”


Telepon berakhir.

Ariel berdiri di tepi jendela lantai dua puluh tujuh, memandang Jakarta yang berkilauan di bawah senja. Di kejauhan, crane-crane raksasa menjulang seperti burung besi yang tak pernah lelah.

Lima belas tahun lalu, ia berdiri di depan surau itu dengan koper murah dan hati penuh dendam. Ayahnya hanya berkata, “Kau yakin?”

Dan Ariel menjawab, “Ayah memilih mereka daripada aku.”

Lelaki tua itu tidak membantah. Tidak menjelaskan. Hanya diam, seperti dinding surau yang mulai retak.

Ariel menghela napas.

Dia lupa persisnya kapan terakhir kali bicara dengan ayahnya sebelum lelaki itu pergi. Yang ia ingat hanyalah telepon dari ibu, lima tahun lalu, dengan suara bergetar:

“Ayahmu sudah tenang, Nak. Semalam, ba'da Isya.”

Ariel tidak pulang waktu itu.


“Aris?”

Rendi muncul dari balik pintu kaca, menepuk bahunya. “Gimana? Bos konsorsium tadi minta kontak kita. Kayaknya deal.”

Ariel menggeser pandangan dari jendela.

“Oke.”

“Oke doang?” Rendi menyipit. “Lo baru aja rebutan proyek 20 miliar sama lima firma internasional, terus lo diem aja? Lo sakit?”

Ariel memasukkan ponsel ke saku jas.

“Gue ke Medan besok.”

Rendi terbelalak. “Medan? Sekarang? Kita harus presentasi lanjutan Jumat depan—”

“Gue balik Senin.”

“Lo gila? Ini proyek terbesar sepanjang—”

“Gue bilang balik Senin.”

Suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan.

Rendi mundur setengah langkah. Mengangkat kedua tangan.

“Oke, bos. Lo bos.”


Malam itu, Ariel duduk di apartemennya yang sunyi.

Dinding kaca, furnitur Italia, pemandangan cakrawala Jakarta. Kamar mandi lebih luas dari rumah ibu di Medan.

Dari stereo, playlist jazz mengalir pelan.

Tapi telinganya masih dipenuhi suara ibu: Siapa lagi yang bisa memperbaikinya kalau bukan kau?

Ariel membuka laci nakas. Di antara paspor dan arloji cadangan, sebuah foto usang terselip.

Dia tidak pernah tahu kenapa foto itu masih ada.

Seorang bocah laki-laki sekitar delapan tahun, duduk di serambi surau dengan buku Iqra di pangkuan. Di sampingnya, lelaki berpeci putih membimbing tangannya yang mungil menelusuri huruf demi huruf.

Alif. Ba. Ta.

Bocah itu tersenyum.

Sekarang, lelaki di foto itu sudah tiada. Dan bocah itu—dirinya—tidak ingat kapan terakhir kali tersenyum seperti itu.

Ariel menutup laci.


Pesawat mendarat di Kualanamu pukul sepuluh pagi.

Udara Medan menyambutnya dengan uap basah dan langit kelabu. Tidak seperti Jakarta yang kering dan berdebu, di sini aroma tanah basah dan tanaman tua bercampur jadi satu.

Ariel menarik koper cabin-nya melewati terminal. Jas mahal, arloji eksklusif, sepatu pantofel mengilap. Ibu bilang supir ojek online akan menjemput.

“Mas Ariel?”

Suara itu datang dari arah pintu keluar.

Seorang perempuan berdiri di antara gerombolan tukang ojek. Usianya sekitar dua puluhan, jilbab biru dongker, kemeja lengan panjang dipadu jeans. Di tangannya, papan kertas bertuliskan: ARIEL ARRAFI—dengan spidol warna-warni, dihias bunga kecil di sudutnya.

Ariel mengerjap.

“Ibu saya yang minta?”

Perempuan itu tersenyum. “Iya. Saya Salma. Kebetulan tadi ngajar TPA di dekat sini, sekalian jemput.”

Dia menjabat tangan Ariel—singkat, wajar.

“Motornya di parkiran. Sini.”

Ariel menatap koper cabin-nya. Lalu sepatu pantofelnya. Lalu bajannya yang disetrika rapi pukul enam pagi tadi.

Salma menoleh. “Ada masalah, Mas?”

“Tidak.”

“Pasti kuat,” katanya, seperti meyakinkan diri sendiri.


Motor itu tua. Merek Jepang, tahun berapa pun Ariel tidak tahu.

Dan joknya sempit.

Ariel duduk di belakang dengan koper diselipkan di antara kedua kakinya, postur kaku, siku sedikit terangkat agar tidak menyentuh jilbab biru itu.

“Pegangan, Mas. Jalanan depan rusak.”

“Saya pegang sini—”

Tapi motor sudah oleng.

Refleks, Ariel memegang jok belakang—dan hampir saja memegang bahu Salma sebelum menarik tangannya cepat-cepat.

Salma tertawa kecil. “Boleh pegang, Mas. Saya enggak gigit.”

Ariel tidak menjawab.

Di kanan-kiri, deretan ruko dan pohon mahoni berlarian cepat. Bau asap kendaraan bercampur aroma martabak dari pinggir jalan.

Ia sudah lima tahun tidak pulang.

Tapi jalanan ini, tikungan ini, jembatan kecil yang dilapisinya—semuanya seperti belum berubah sama sekali.

“Surau Al-Ikhlas,” ujar Salma sambil sedikit menengok, “itu tempat ayah Mas Ariel dulu ngajar, ya?”

Ariel diam.

“Waktu kecil saya pernah ikut ayah ke sana. Saya ingat, beliau orangnya... tenang sekali. Murid-muridnya banyak yang nangis pas beliau wafat.”

Dada Ariel sesak.

“Saya belum lahir waktu itu, sih. Cerita ayah saya.” Salma menambah gas. “Tapi kata orang, guru ngaji seikhlas beliau itu langka.”

Ariel menelan ludah.

“...Ya.”

Hanya itu yang bisa ia katakan.


Rumah ibu masih sama.

Pagar besi mulai mengelupas catnya. Taman depan tidak lagi serapi dulu, tapi pot-pot kamboja masih berjejer rapi di bawah jendela.

Ariel turun dari motor, lututnya agak kaku.

“Terima kasih.”

“Sama-sama, Mas. Saya ke surau dulu, ada anak-anak TPA nunggu.” Salma sudah memutar stang. “Oh ya, selamat datang di Medan.”

Motor itu melesat pergi, meninggalkan Ariel di depan pagar dengan kopernya.

Dari dalam rumah, pintu kayu tua terbuka perlahan.

Seorang perempuan berjilbab putih berdiri di ambang pintu. Tubuhnya lebih kecil dari ingatan Ariel. Lima tahun membuatnya tampak lebih renta, lebih rapuh.

Tapi matanya—matanya basah dan berbinar.

“Nak...”

Ibu membuka kedua tangannya.

Dan Ariel, arsitek sukses berusia tiga puluh dua tahun dengan proyek 20 miliar di tangannya, hanya bisa berdiri membeku di depan pintu rumah yang lima tahun lalu ia tinggalkan tanpa menoleh.

“Ibu...”

Suaranya serak.

Ibu memeluknya.

Aroma melati dan bedak tua. Aroma yang sama sejak ia kecil, sejak ayah masih ada, sejak surau itu masih ramai dengan bacaan ayat suci.

“Sudah pulang,” bisik ibu. “Syukurlah, Nak. Syukurlah kau pulang.”

Ariel tidak membalas pelukan itu.

Tapi ia juga tidak menolak.


Setelah Isya, Ariel duduk di teras.

Ibu membawakannya teh manis hangat, lalu duduk di kursi rotan di sampingnya. Mereka diam, menatap langit Medan yang tertutup awan.

“Surau itu,” ibu memulai pelan, “besok kau lihat dulu ya, Nak. Pelan-pelan.”

Ariel menyesap tehnya.

“Saya bawa kontraktor dari Jakarta. Spesialis renovasi bangunan cagar budaya. Minggu depan bisa mulai.”

Ibu geleng kepala.

“Tidak usah. Di sini sudah ada Pak Udin. Beliau yang dulu bantu ayahmu bangun surau dari awal.”

Ariel meletakkan cangkir.

“Pak Udin umurnya tujuh puluh tahun, Bu. Mana mungkin beliau sendiri yang—”

“Dia punya anak buah. Tukang-tukang kampung. Biasa bangun masjid, surau, madrasah.”

“Berapa lama?”

“Sekitar empat puluh hari. Target Ramadan.”

Ariel menghela napas panjang.

“Bu, saya tidak bisa di sini empat puluh hari. Saya punya klien, proyek, tanggung jawab di Jakarta.”

Ibu tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan mata teduh.

“Tiga hari,” ulang Ariel. “Maksimal.”

Ibu mengambil cangkir teh yang hampir tak tersentuh.

“Terserah kau, Nak. Yang penting kau sudah pulang.”


Malam semakin larut.

Ariel masuk ke kamar masa kecilnya. Kamar ini sudah disulap menjadi ruang tamu cadangan sejak ia merantau. Tapi ibu masih menyimpan lemari kayu tua itu—lemari peninggalan ayah.

Ia membuka ponsel. Dua belas notifikasi dari Rendi.

Rendi: Bos, konsorsium minta revisi moodboard.
Rendi: Lo udah nyampe? Medan panas ga sih?
Rendi: Jangan lama-lama, gue kedinginan sendirian di sini.
Rendi: Bercanda. Tapi serius. Cepet balik.

Ariel tidak membalas.

Ia mematikan layar, merebahkan diri di tempat tidur yang lebih keras dari kasur memory foam-nya di Jakarta.

Di luar, suara azan Isya dari surau terdengar samar.

Atau mungkin itu dari masjid sebelah.

Atau mungkin itu hanya ingatannya yang belum sepenuhnya pulih.


Besok pagi, ia akan ke surau.

Ia akan lihat kerusakannya, hitung biayanya, urus semuanya seperti proyek biasa. Analisis masalah, cari solusi, eksekusi.

Tiga hari. Cukup.

Ariel menarik selimut tipis itu hingga ke dagu.

Ayah memilih mereka daripada aku.

Ucapannya sendiri lima belas tahun lalu masih bergema di kepala.

Tapi malam ini, di kamar ini, di rumah ini, di kota yang dulu ingin ia tinggalkan selamanya—

Ariel tidak yakin apakah itu masih sepenuhnya benar.


Ariel menghela napas.

"Baik, Bu. Saya pulang."

Tapi dalam hatinya, ia sudah bertekad:

*Tiga hari. Maksimal. Lalu tinggalkan tempat ini selamanya. *


Bersambung Ke BAB 2 MEDAN, DALAM DUA DUNIA ,


Bab 2 dapat langsung anda baca di Aplikasi "FIZZO NOVEL"